Senin, 05 Agustus 2013

tuhan, ini untuk mu


Sosok itu, seorang laki-laki bertubuh tinggi, berwajah tampan yang selalu ada di setiap fikiran ku. Aku tak tahu kenapa dia selalu ada disini, di dalam fikiran ku di dalam benak ku. Setiap detik, menit, setiap hari nya. Waktu ini tak akan bisa dihitung. Seberapa banyak jarum jam di dinding berputar dan selama itu aku terus melamun terbawa terbang melayang akan diri nya.
                Oh tuhan aku tak tahu, apakah ini cinta atau Cuma satu rasa yang aneh. Tapi rasa ini selalu ada. Di dalam otak ini di dalam hati ini. Ya tuhan aku rasa, ini rasa sayang. Rasa sayang ku terhadap nya yang ku kenal sebagai sahabat. Apakah ini salah satu dari takdir mu. Tapi, tuhan! Buatlah ini sesederhana mungkin. Sesederhana tulisan ini yang aku tunjukkan untuk mu .
                Semoga curahan ini sampai, setidak nya untuk mu tuhan. Walau dia tak tahu. Tapi hati ini lega, karna aku telah meluapkannya dalam sebuah tulisan. 

i'm sorry to write this


                Tubuh nya tinggi, senyumnya menawan, mata nya bersinar cerah, alis nya itu sangat-sangat menjadi cirri khas nya. hai! Ketika senyuman terukir di wajah nya yang tampan. Susunan gigi yang rapih tambah menghiasi sosok mu yang kuanggap sempurna.
Sikap nya tidak terlalu manis pada wanita, tapi itu bukan maksud dari perlakuannya. Ya! Memang aku tak kenal lama. Dan dalam waktu singkat . kami saling mencoba untuk mengenal, dia pergi. Sudah banyak cerita antara aku dengan dia. tawa itu, senyum itu, sipitan mata jika mulut nya terlalu lebar terbuka untuk melepas kebahagiaan.
                Yaa... aku tidak akan pernah melupakan itu. masa-masa aku dengan dia masih bersama. Tapi sayang tuhan berkehendak lain. Hai! Apakah kamu ingat pertama kali kita bertemu di parkiran sekolah? Muka mu tak seceria setelah aku kenal. Apa kamu masih ingat saat kita berkeliling kota ini yang terik dan penuh dengan debu? Apa kamu masih ingat saat kamu mengantar aku pulang saat malam sudah larut? Ya! Saat pertandingan bola ittu! Atau saat kamu main kerumah. Kamu duduk di lantai menonton televise dan aku, tidur diatas pangkuan mu. Tapi sayang itu sudah lalu, sekarang aku hanya bisa dengar lewat suara mu, lewat rekaman itu.
Maaf aku tulis ini, tulisan ini sama sekali tidak di peruntukan untuk kamu. Setidak nya aku bisa bercerita pada kertas putih ini yang tak tahu apa-apa. Dan tinta hitam yang aku pakai, itu hanya menjadi perantara hati.