Selasa, 18 Juni 2013

jadi guru ternyata tidak enak!


Tau rasa nya mengajar anak kecil yang kurang ajar? Anak kecil yang tidak bisa mendengarkan perkataan orang yang umur nya lebih tua dari diri nya.  aku tahu semua orang mempunyai hak asasi sebagai manusia untuk mengeluarkan pendapat nya. tapi apa kah ini bukan kurang jar jika harus membatah perkataan orang yang lebih tua. Dan dimana rasa hormat nya.
Aku mengajar di sebuah instansi swasta pimpinan ayah. Berkat keahlian ku dalam bidang menari ayah meminta ku untuk mengajar tari tradisional di instansi nya. suatu tempat yang kebanyakan diisi oleh anak anak di bawah umur, sekitar umur 7-12 tahun.  Sebenar nya tak ada untung dalam materi mengajar disini. Bayaran nya tak besar atau apalah yang lan. Melainkan dulu aku juga bersekolah disini setidak nya membantu memajukan sekolah sebagai seorang alumni.
Kadang aku senang mengajar mereka, tapi dimana tata karma mereka semua? Kadang mereka lebih mengatur, aku membiarkan semua waktu terserah mereka,kapan mereka mau latihan kampan mereka mau istirahat atau apalah. Yang menjengkelkan kalau mereka tidak bisa di atu, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Memori otak mereka juga tidak banyak, mungkin juga tidak terlalu berfungsi baru diingatkan sebenta satu atau dua menit kemudian mereka akan lupa lagi.
Mereka anak-anak yang normal, bukan anak anak yang harus diberi pengertian khusus. Mungkin mereka anak-anak yang terlalu bebas, anak anak yang susah untuk di beri pengertian. Apa kabar nya dengan ayah sudah mengajar bertahun tahun rasa nya? dengan berbagai tipe anak dikelas nya. dan harus bertemu setiap hari selain hari minggu sabtu dan hari libur lainnya.
Mungkin itulah yang dibilang kalau sabar itu susah, contoh nya hal kecil seperti ini. Mengajar anak anak perempuan yang umur nya masih dikatakan belia tapi tingkat nya paling tinggi di sekolah ini harus punya kesabaran ekstra. Dan memang harus puna muka 2 di depan mereka. Menyimpan kekesalan didalam hati dan mereka tidak boleh tau, bahkan mereka tidak mau tau.
Salut untuk semua tenaga pendidikan di seluruh dunia khusus na di Indonesia, berkat mereka semua terlahir sosok yang lebih baik, lebih sukses akan dari diri nya. tidak peduli bagaimana sikap dan sifat anak didik nya, yang penting saya mengajar mereka mengerti mereka sukses kelak.
Dan terlahir lah seseorang yang bisa menjadi presiden, mentri, dokter, guru dan pekerjaan lainnya yang mulia.

Jumat, 07 Juni 2013

god i don't know what i feel


                Aku tinggal disini bersama keluarga kecil ku. Dirumah ini aku tinggal berempat. Berbagi kamar dengan sepupu perempuan ku yang kuliah dijakarta. Dulu aku berbagi kamar  dengan kakak perempuan ku tapi sekarang dia kuliah di semarang untuk menjalankan kuliah S1 nya.
                Dirumah ini banayak berbagai cerita yang terukir. Dari canda riang, obrolan enteng, bercerita tentang kejadia sekolah, berdiskusi, sampai rasa sedih juga terukir.
                Sore ini saat aku sampai dirumahsetelah pulang sekolah. Berita buruk terdengar ditelinga. Ibu masuk rumah sakit. Ibu mempunyai penyakit jantung setelah melahirkan ku 17 tahun yang lalu. Bayang-bayang buruk terfikir di otak.
                Hasil laboratorium jelek. Dokter mendiagnosa harus dirawat. Dan harus di ruang icu. Mendengar ruang icu yang terucap hal buruk itu kembai terfikirkan.
                Semua orang khawatir, sebenarnya aku merasa senang dengan rasa simpatik dan empatik yang diberikan semua orang. Tapi hati ini tetap aja sedih, air mata terkadang tertetes sedih. Begitu juga ibu diruangan saat aku melihat keadaannya. Ada sebutir air mata yang jatu, punggung tangan nya mengusap.
                Aku mengantuk di depan televisi yang aku tonton sambil menunggu ayah yang kata nya akan pulang. Ayah pulang untuk mengambil keperluan. Ada satu hal kecil, yang sangat sepele dan hal itu membuat ayah menjadi marah. Ayah mempunyai sifat pemarah. Ada kesalahan sedikit asti ia akan marah.
                Malam ini aku gak kuat lagi untuk mendengar omelan ayah selama ini. Dan apalagi jika yang aku bisa hanya diam. Aku berteriak. Setidak nya mengeluarkan rasa tertahan yang ada di dalam hati.
                                “ibu lagi sakit.kenapa si harus marah-marah?capek tau gak si!” mungkin baru kata itu yang bisa aku keluarkan. Mungkin bila aku masih bisa bertutur kata tanpa menangis seribu kosa kata akan keluar.
                Aku sedih, air mata ini sudah tidak bisa di tahan lagi. Mengalir bersama dengan teriakan ku. Tapi setidak nya bisa meringan kan hati. kadang aku mau menceritakan ini kepada kakak ku yang berada di semarang. Tapi aku berfikir ulang, kalau aku menceritakan tentang suasana rumah pasti sedikit banyak ia akan memfikirkannya. Aku merasa kasihan. Apalagi dengan keadaan ibu yang seperti in. Kadang aku merasa iri dengan nya, ia jarang sekali mendengar atau merasakan suasana yang seperti ini. Ia hanya mendengar suara gembira dari pesawat telepon.
                Disuasana yang seperti ini, suasana yang benar-benar amat tidak menyenangkan. Kamar menjadi satu-satu nya tempat untuk mencurahkan air mata. Setidak nya setelah ini, hati sedikit terasa lega