“ciieeee siapa yang satu minggu lagi
ulang tahun?” ucap teman lama sasa yang bernama farel, laki-laki yang sudah
berteman dengan sasa dari umur mereka 5 tahun. Sampai sekarang menuju umur sasa
yang akan beranjak keumur 17 tahun yang akan datang satu minggu lagi.
Sasa merengut, seakan satu minggu
lagi itu tak pernah ada di bayangnya. Bahkan kalau banyak orang menanti untuk
bisa berumur 17 tahun ,sasa enggak pernah mau itu.
“kok gitu sih? Kan seru 17 tahunan,kita
rayain bareng ya sa?” farel mengucapkan nya dengan semangat, kebetulan ulang
tahun mereka bareng, di tanggal,bulan dan tahun yang sama. Farel 2 jam lebih
dahulu lahir dibanding sasa. Sasa menggeleng kan kepala
“kenapa?” tanya nya kecewa, kekecewaan
terlihat di bola mata nya yang gelap. Bola mata nya berkata dengan jujur.
“buat apa rel, kalau orang yang gue
sayang gak bakal dateng.”
Tiga tahun yang lalu, sasa bertemu
dengan seorang laik-laki yang pertemuan nya tidak sengaja. Mungkin ini yang nama
nya jodoh, tiga bulan dekat dengan nya kata cinta sudah meluncur dari bibir
tipis cowok itu. nama nya risyad. Rasa percaya mendasari semua nya. kata ‘iya’
keluar dari mulut sasa tanpa pikir panjang.
Di tengah perjalanan hubungan, di
saat sasa dengan risyad sedang menjalin hubungan. dengan perjalinan kasih yang
mulus suatu badai menerpa. Risyad harus pindah ke belanda. Ikut dengan ke dua
orang tua nya yang mendapat tugas bekerja di negeri kincir angin. Suatu
hubungan jarak jauh harus mereka lalui. Gangguan komunikasi menjadi kendala,
perbedaan waktu selama enam jam juga menjadi salah satu kendala. Hubungan mereka
selama beberapa bulan belakangan hanya
melalui sebuah chatting, media social, atau skype.
Perbedaan waktu yang cukup lama
menjadi salah satu masalah yang lumayan cukup besar. Salah satu dari mereka
harus ada yang ngalah nahan kantuk nya kalau lagi mau skype. Missal nya aja di
Indonesia jam satu malam sedang kan di belanda jam 7 pagi, sasa harus bergadang
hanya buat ngelepasin rasa rindu. Risyad sering telpon sasa antara pukul 22:00
sampai pukul 01:00 dini hari. Karna hanya waktu itu yang bisa mereka gunain
buat telponan.
Beruntung, kali ini risyad ngajak
skype dengan waktu yang lebih awal. Rasa senang sasa rasain, karna sasa gak
perlu bergadang malam ini buat ngobrol sama orang yang ada di benua lain.
Percakapan mereka berlangsung cukup lama. Dari pembicaraan risyad tersyirat ada
sesuatu yang ia sembunyikan. Lama dari pembicaraan, risyad merujuk pada suatau
topic pembicaraan.
“din kayak nya aku gak bisa balik
deh ke Indonesia ”
“oh ya?kenapa?” tanya sasa, mencoba
dengan suara yang sedatar mungkin.
“mama gak ngizinin, maaf ya”
“oh gitu, terus kira-kira kapan bisa kesini?” tanya
sasa lagi, mencari bahan omongan lain.
“masih gak tau, kamu mau titip apa
kalau aku balik nanti?”
“enggak ada.”
Pembicaraan itu terasa tak ada guna
nya. karna, setelah pembicaraan itu tak ada kabar baik yang sasa dapat. Bayang-bayang
saat ulang tahun yang ke 17 ada pacar yang bawa kue datang kerumah saat jam
12:00 malam sirna sudah. Jangan kan berfikiran buat ngerancanain acara ini itu,
liat tanggal lahir nya saja di kalender zonk banget.
Salsa sedih, kecewa. Risyad yang
telpon lebih awal ternyata tidak juga membuat sasa tidur lebih awal. Sasa
bergadang semalaman, menangis di keheningan malam. Hampir satu tahun lebih
risyad pergi ke belanda. Dan selama jenjang waktu tersebut mereka hanya bertemu
satu kali. Itu pun dengan waktu yang sebentar.
Rasa kangen nya ke risyad Cuma busa
ia keluarkan lewat tangisan malam ini. Semalam kuntuk sasa mendekap wajah nya
diatas bantal. Diselubungi selimut tebal. Farel, teman cerita nya, sasa sedikit
kefikiran untuk menelpon farel. Tapi ,saat sasa menengok jam, sudah menunjukkan
pukul 01:00 dini hari.
Saat sasa bertemu dengan farel
keesokkan pagi nya, farel tidak sadar kalau teman kecil nya menangis semalaman.
Malah menanyakan tentang acara yang akan mereka buat. Pertanyaan farel sedikit
membuat sasa menjadi geram. Ditambah lagi farel terus bertanya-tanya tentang
acara apa yang akan mereka lakukan untuk merayakan ulang tahun yang kebetulan
berbarengan.
“risyad gak bisa balik rel, males
deh jadi nya.”
“yaelah gak papa sa” jawab nya
enteng. Sasa menggeleng. Menambah cemburut diwajah nya
Seminggu kemudian, hari ulang tahun
itu tiba. risyad menjadi orang pertama yang mengucapkan ke sasa. disusul farel,
sasa balik mengucapkan selamat ke farel atas hari ulang tahun nya yang ke tujuh
belas.
“sa, temuin gue di tempat restoran
biasa ya” sebuah bbm masuk ke handpone sasa dari farel setelah ucapan selamat
di atas nya.
Sasa pergi ke restoran tempat sasa
dengn farel makan bareng. Restoran ini menjadi tempat favorit mereka setelah
tempat-tempat yang lain nya. tapi batang hidung farel belum terlihat. Kali ini
farel datang terlambat. Tidak seperti biasa nya, farel selalu datang tepat
waktu. Sasa menunggu dengan bosan, memainkan hadpone nya menunggu kedatangan
farel.
“happy birthday sasa, happy birthday
sasa,happy birthday happy birthday happy birthday sasa” lagu itu teralun pelan
dari suara yang udah gak asing lagi di telinga sasa. Suara itu sudah di kenal
sasa dari 12 tahun yang lalu.
Wajah sasa riang, melihat kebaikan teman nya membawakan kue yang
diatas nya bertuliskan ‘selamat ulang tahun sahabat kesayangan’. Seketika sasa
lupa akan ketidak hadiran pacar nya di hari ulang tahun nya kali ini. Farel
yang perhatian kepada nya padahal hari ini juga berulang tahun membuat dinda
merasa sangat senang dan merasa tidak enak hati. farel rela membawakan kue
untuk sasa, dan sasa gak bawa apa-apa yang bisa di kasih buat farel. Senyuman
bahagia terukir di wajah sasa yang oriental.
“kita videoin ya sa nanti kita kasih ke risyad” --- sasa mengangguk
setuju
“wish dulu dong sa, sebelum tiup lilin”
“ohiya, doa gue moga panjang umur,sehat,dikasih yang terbaik sama
tuhan, sama moga-moga risyad balik ya ke Indonesia. By the way makasih farel
sahabat kesayangan” Sasa meniup dua liin kecil yang ada di hadapannya. Semoga
asap dari lilin itu sampai bersamaan dengan doa sasa untuk tuhan.
Farel dengan sasa pulang kerumah, kali ini farel ikut sasa kerumah
nya karna mama sasa sudah menyiapkan hidangan makanan untuk farel dan sasa
serta keluarga yang lain nya. acara ini selalu di lakukan setiap tahun, sekedar
membaca doa kecil untuk anak nya. dan selalu ada farel di samping kursi duduk
sasa.
Sesampai nya mereka dirumah, orang-orang rumah serta keluarga yang
lain sudah berkumpul bersama. Kehangatan di hari itu menghibur hati sasa.
Mereka duduk di meja makan bundar yang berukuran besar. Mereka duduk
mengelilingi. Doa dipanjatkan sebelum makan dimulai. Ramah tamah diantara
mereka menyenangkan suasana.
Seseorang di depan sana, tidak termasuk orang-orang yang duduk
berkeliling. Sesosok manusia yang sangat-sangat sasa kenal tapi sekitar 12
bulan yang lalu sasa tidak pernah bertemu orang itu. orang itu membawa sebuah
kue ulang tahun di atas tangan nya. ia berdiri tersenyum kepada sasa. Tujuh
belas lilin kecil yang menyala di atas kue nya. memancarkan sinar lilin ke
wajah nya.
Seseorang yang bertubuh tinggi, memakai baju berkerah o berwarna
hijau. Ingin rasa nya sasa memeluk tubuh orang itu. risyad datang ke Indonesia
tanpa sepengetahuan diri nya. mungkin pembicaraan di telpon beberapa waktu lalu
merupakan bagian dari rencana nya. senyum lebar makin menghiasi wajah sesa.
Rasa senang, gembira sudah semua nya terasa di reluung hati nya.
“kenapa kamu bohong kemarin?”
“happy sweat seventeen honey”
kecupan kecil risyad berikan untuk sasa di kening nya.