Kamis, 30 Mei 2013

17 th


            “ciieeee siapa yang satu minggu lagi ulang tahun?” ucap teman lama sasa yang bernama farel, laki-laki yang sudah berteman dengan sasa dari umur mereka 5 tahun. Sampai sekarang menuju umur sasa yang akan beranjak keumur 17 tahun yang akan datang satu minggu lagi.
            Sasa merengut, seakan satu minggu lagi itu tak pernah ada di bayangnya. Bahkan kalau banyak orang menanti untuk bisa berumur 17 tahun ,sasa enggak pernah mau itu.
            “kok gitu sih? Kan seru 17 tahunan,kita rayain bareng ya sa?” farel mengucapkan nya dengan semangat, kebetulan ulang tahun mereka bareng, di tanggal,bulan dan tahun yang sama. Farel 2 jam lebih dahulu lahir dibanding sasa. Sasa menggeleng kan kepala
            “kenapa?” tanya nya kecewa, kekecewaan terlihat di bola mata nya yang gelap. Bola mata nya berkata dengan jujur.
            “buat apa rel, kalau orang yang gue sayang gak bakal dateng.”
            Tiga tahun yang lalu, sasa bertemu dengan seorang laik-laki yang pertemuan nya tidak sengaja. Mungkin ini yang nama nya jodoh, tiga bulan dekat dengan nya kata cinta sudah meluncur dari bibir tipis cowok itu. nama nya risyad. Rasa percaya mendasari semua nya. kata ‘iya’ keluar dari mulut sasa tanpa pikir panjang.
            Di tengah perjalanan hubungan, di saat sasa dengan risyad sedang menjalin hubungan. dengan perjalinan kasih yang mulus suatu badai menerpa. Risyad harus pindah ke belanda. Ikut dengan ke dua orang tua nya yang mendapat tugas bekerja di negeri kincir angin. Suatu hubungan jarak jauh harus mereka lalui. Gangguan komunikasi menjadi kendala, perbedaan waktu selama enam jam juga menjadi salah satu kendala. Hubungan mereka  selama beberapa bulan belakangan hanya melalui sebuah chatting, media social, atau skype.
            Perbedaan waktu yang cukup lama menjadi salah satu masalah yang lumayan cukup besar. Salah satu dari mereka harus ada yang ngalah nahan kantuk nya kalau lagi mau skype. Missal nya aja di Indonesia jam satu malam sedang kan di belanda jam 7 pagi, sasa harus bergadang hanya buat ngelepasin rasa rindu. Risyad sering telpon sasa antara pukul 22:00 sampai pukul 01:00 dini hari. Karna hanya waktu itu yang bisa mereka gunain buat telponan.
            Beruntung, kali ini risyad ngajak skype dengan waktu yang lebih awal. Rasa senang sasa rasain, karna sasa gak perlu bergadang malam ini buat ngobrol sama orang yang ada di benua lain. Percakapan mereka berlangsung cukup lama. Dari pembicaraan risyad tersyirat ada sesuatu yang ia sembunyikan. Lama dari pembicaraan, risyad merujuk pada suatau topic pembicaraan.
            “din kayak nya aku gak bisa balik deh ke Indonesia ”
            “oh ya?kenapa?” tanya sasa, mencoba dengan suara yang sedatar mungkin.
            “mama gak ngizinin, maaf ya”
            “oh gitu,  terus kira-kira kapan bisa kesini?” tanya sasa lagi, mencari bahan omongan lain.
            “masih gak tau, kamu mau titip apa kalau aku balik nanti?”
            “enggak ada.”
            Pembicaraan itu terasa tak ada guna nya. karna, setelah pembicaraan itu tak ada kabar baik yang sasa dapat. Bayang-bayang saat ulang tahun yang ke 17 ada pacar yang bawa kue datang kerumah saat jam 12:00 malam sirna sudah. Jangan kan berfikiran buat ngerancanain acara ini itu, liat tanggal lahir nya saja di kalender zonk banget.
            Salsa sedih, kecewa. Risyad yang telpon lebih awal ternyata tidak juga membuat sasa tidur lebih awal. Sasa bergadang semalaman, menangis di keheningan malam. Hampir satu tahun lebih risyad pergi ke belanda. Dan selama jenjang waktu tersebut mereka hanya bertemu satu kali. Itu pun dengan waktu yang sebentar.
            Rasa kangen nya ke risyad Cuma busa ia keluarkan lewat tangisan malam ini. Semalam kuntuk sasa mendekap wajah nya diatas bantal. Diselubungi selimut tebal. Farel, teman cerita nya, sasa sedikit kefikiran untuk menelpon farel. Tapi ,saat sasa menengok jam, sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari.
            Saat sasa bertemu dengan farel keesokkan pagi nya, farel tidak sadar kalau teman kecil nya menangis semalaman. Malah menanyakan tentang acara yang akan mereka buat. Pertanyaan farel sedikit membuat sasa menjadi geram. Ditambah lagi farel terus bertanya-tanya tentang acara apa yang akan mereka lakukan untuk merayakan ulang tahun yang kebetulan berbarengan.
            “risyad gak bisa balik rel, males deh jadi nya.”
            “yaelah gak papa sa” jawab nya enteng. Sasa menggeleng. Menambah cemburut diwajah nya
            Seminggu kemudian, hari ulang tahun itu tiba. risyad menjadi orang pertama yang mengucapkan ke sasa. disusul farel, sasa balik mengucapkan selamat ke farel atas hari ulang tahun nya yang ke tujuh belas.
            “sa, temuin gue di tempat restoran biasa ya” sebuah bbm masuk ke handpone sasa dari farel setelah ucapan selamat di atas nya.
            Sasa pergi ke restoran tempat sasa dengn farel makan bareng. Restoran ini menjadi tempat favorit mereka setelah tempat-tempat yang lain nya. tapi batang hidung farel belum terlihat. Kali ini farel datang terlambat. Tidak seperti biasa nya, farel selalu datang tepat waktu. Sasa menunggu dengan bosan, memainkan hadpone nya menunggu kedatangan farel.
            “happy birthday sasa, happy birthday sasa,happy birthday happy birthday happy birthday sasa” lagu itu teralun pelan dari suara yang udah gak asing lagi di telinga sasa. Suara itu sudah di kenal sasa dari 12 tahun yang lalu.
Wajah sasa riang, melihat kebaikan teman nya membawakan kue yang diatas nya bertuliskan ‘selamat ulang tahun sahabat kesayangan’. Seketika sasa lupa akan ketidak hadiran pacar nya di hari ulang tahun nya kali ini. Farel yang perhatian kepada nya padahal hari ini juga berulang tahun membuat dinda merasa sangat senang dan merasa tidak enak hati. farel rela membawakan kue untuk sasa, dan sasa gak bawa apa-apa yang bisa di kasih buat farel. Senyuman bahagia terukir di wajah sasa yang oriental.
“kita videoin ya sa nanti kita kasih ke risyad” --- sasa mengangguk setuju
“wish dulu dong sa, sebelum tiup lilin”
“ohiya, doa gue moga panjang umur,sehat,dikasih yang terbaik sama tuhan, sama moga-moga risyad balik ya ke Indonesia. By the way makasih farel sahabat kesayangan” Sasa meniup dua liin kecil yang ada di hadapannya. Semoga asap dari lilin itu sampai bersamaan dengan doa sasa untuk tuhan.
Farel dengan sasa pulang kerumah, kali ini farel ikut sasa kerumah nya karna mama sasa sudah menyiapkan hidangan makanan untuk farel dan sasa serta keluarga yang lain nya. acara ini selalu di lakukan setiap tahun, sekedar membaca doa kecil untuk anak nya. dan selalu ada farel di samping kursi duduk sasa.
Sesampai nya mereka dirumah, orang-orang rumah serta keluarga yang lain sudah berkumpul bersama. Kehangatan di hari itu menghibur hati sasa. Mereka duduk di meja makan bundar yang berukuran besar. Mereka duduk mengelilingi. Doa dipanjatkan sebelum makan dimulai. Ramah tamah diantara mereka menyenangkan suasana.
Seseorang di depan sana, tidak termasuk orang-orang yang duduk berkeliling. Sesosok manusia yang sangat-sangat sasa kenal tapi sekitar 12 bulan yang lalu sasa tidak pernah bertemu orang itu. orang itu membawa sebuah kue ulang tahun di atas tangan nya. ia berdiri tersenyum kepada sasa. Tujuh belas lilin kecil yang menyala di atas kue nya. memancarkan sinar lilin ke wajah nya.
Seseorang yang bertubuh tinggi, memakai baju berkerah o berwarna hijau. Ingin rasa nya sasa memeluk tubuh orang itu. risyad datang ke Indonesia tanpa sepengetahuan diri nya. mungkin pembicaraan di telpon beberapa waktu lalu merupakan bagian dari rencana nya. senyum lebar makin menghiasi wajah sesa. Rasa senang, gembira sudah semua nya terasa di reluung hati nya.
“kenapa kamu bohong kemarin?”
“happy sweat seventeen honey”  kecupan kecil risyad berikan untuk sasa di kening nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar