Jumat, 07 Juni 2013

god i don't know what i feel


                Aku tinggal disini bersama keluarga kecil ku. Dirumah ini aku tinggal berempat. Berbagi kamar dengan sepupu perempuan ku yang kuliah dijakarta. Dulu aku berbagi kamar  dengan kakak perempuan ku tapi sekarang dia kuliah di semarang untuk menjalankan kuliah S1 nya.
                Dirumah ini banayak berbagai cerita yang terukir. Dari canda riang, obrolan enteng, bercerita tentang kejadia sekolah, berdiskusi, sampai rasa sedih juga terukir.
                Sore ini saat aku sampai dirumahsetelah pulang sekolah. Berita buruk terdengar ditelinga. Ibu masuk rumah sakit. Ibu mempunyai penyakit jantung setelah melahirkan ku 17 tahun yang lalu. Bayang-bayang buruk terfikir di otak.
                Hasil laboratorium jelek. Dokter mendiagnosa harus dirawat. Dan harus di ruang icu. Mendengar ruang icu yang terucap hal buruk itu kembai terfikirkan.
                Semua orang khawatir, sebenarnya aku merasa senang dengan rasa simpatik dan empatik yang diberikan semua orang. Tapi hati ini tetap aja sedih, air mata terkadang tertetes sedih. Begitu juga ibu diruangan saat aku melihat keadaannya. Ada sebutir air mata yang jatu, punggung tangan nya mengusap.
                Aku mengantuk di depan televisi yang aku tonton sambil menunggu ayah yang kata nya akan pulang. Ayah pulang untuk mengambil keperluan. Ada satu hal kecil, yang sangat sepele dan hal itu membuat ayah menjadi marah. Ayah mempunyai sifat pemarah. Ada kesalahan sedikit asti ia akan marah.
                Malam ini aku gak kuat lagi untuk mendengar omelan ayah selama ini. Dan apalagi jika yang aku bisa hanya diam. Aku berteriak. Setidak nya mengeluarkan rasa tertahan yang ada di dalam hati.
                                “ibu lagi sakit.kenapa si harus marah-marah?capek tau gak si!” mungkin baru kata itu yang bisa aku keluarkan. Mungkin bila aku masih bisa bertutur kata tanpa menangis seribu kosa kata akan keluar.
                Aku sedih, air mata ini sudah tidak bisa di tahan lagi. Mengalir bersama dengan teriakan ku. Tapi setidak nya bisa meringan kan hati. kadang aku mau menceritakan ini kepada kakak ku yang berada di semarang. Tapi aku berfikir ulang, kalau aku menceritakan tentang suasana rumah pasti sedikit banyak ia akan memfikirkannya. Aku merasa kasihan. Apalagi dengan keadaan ibu yang seperti in. Kadang aku merasa iri dengan nya, ia jarang sekali mendengar atau merasakan suasana yang seperti ini. Ia hanya mendengar suara gembira dari pesawat telepon.
                Disuasana yang seperti ini, suasana yang benar-benar amat tidak menyenangkan. Kamar menjadi satu-satu nya tempat untuk mencurahkan air mata. Setidak nya setelah ini, hati sedikit terasa lega

Tidak ada komentar:

Posting Komentar