Aku
tinggal disini bersama keluarga kecil ku. Dirumah ini aku tinggal berempat. Berbagi
kamar dengan sepupu perempuan ku yang kuliah dijakarta. Dulu aku berbagi kamar dengan kakak perempuan ku tapi sekarang dia
kuliah di semarang untuk menjalankan kuliah S1 nya.
Dirumah
ini banayak berbagai cerita yang terukir. Dari canda riang, obrolan enteng,
bercerita tentang kejadia sekolah, berdiskusi, sampai rasa sedih juga terukir.
Sore
ini saat aku sampai dirumahsetelah pulang sekolah. Berita buruk terdengar
ditelinga. Ibu masuk rumah sakit. Ibu mempunyai penyakit jantung setelah
melahirkan ku 17 tahun yang lalu. Bayang-bayang buruk terfikir di otak.
Hasil
laboratorium jelek. Dokter mendiagnosa harus dirawat. Dan harus di ruang icu. Mendengar
ruang icu yang terucap hal buruk itu kembai terfikirkan.
Semua
orang khawatir, sebenarnya aku merasa senang dengan rasa simpatik dan empatik
yang diberikan semua orang. Tapi hati ini tetap aja sedih, air mata terkadang
tertetes sedih. Begitu juga ibu diruangan saat aku melihat keadaannya. Ada sebutir
air mata yang jatu, punggung tangan nya mengusap.
Aku
mengantuk di depan televisi yang aku tonton sambil menunggu ayah yang kata nya
akan pulang. Ayah pulang untuk mengambil keperluan. Ada satu hal kecil, yang
sangat sepele dan hal itu membuat ayah menjadi marah. Ayah mempunyai sifat
pemarah. Ada kesalahan sedikit asti ia akan marah.
Malam
ini aku gak kuat lagi untuk mendengar omelan ayah selama ini. Dan apalagi jika
yang aku bisa hanya diam. Aku berteriak. Setidak nya mengeluarkan rasa tertahan
yang ada di dalam hati.
“ibu
lagi sakit.kenapa si harus marah-marah?capek tau gak si!” mungkin baru kata itu
yang bisa aku keluarkan. Mungkin bila aku masih bisa bertutur kata tanpa menangis
seribu kosa kata akan keluar.
Aku
sedih, air mata ini sudah tidak bisa di tahan lagi. Mengalir bersama dengan
teriakan ku. Tapi setidak nya bisa meringan kan hati. kadang aku mau
menceritakan ini kepada kakak ku yang berada di semarang. Tapi aku berfikir
ulang, kalau aku menceritakan tentang suasana rumah pasti sedikit banyak ia
akan memfikirkannya. Aku merasa kasihan. Apalagi dengan keadaan ibu yang
seperti in. Kadang aku merasa iri dengan nya, ia jarang sekali mendengar atau
merasakan suasana yang seperti ini. Ia hanya mendengar suara gembira dari
pesawat telepon.
Disuasana
yang seperti ini, suasana yang benar-benar amat tidak menyenangkan. Kamar menjadi
satu-satu nya tempat untuk mencurahkan air mata. Setidak nya setelah ini, hati
sedikit terasa lega
Tidak ada komentar:
Posting Komentar